Sambel Kambil Simbok dan Rahasia Sego Putih
Mengenang Sambel Kambil Simbok dan Sego Putih istimewa. Kisah pahit manis masa kecil di Gunungkidul, penuh cinta dan pengorbanan seorang ibu.

Jika ditanya apa rasa yang paling melekat dalam ingatan, jawaban saya selalu sama: πΊπππππ‘ πππ’πππ (sambel kelapa) buatan Simbok, yang lahir dari pawon kecil kami yang masih berlantai tanah, berdinding gedhek dan berbau asap kayu bakar.
Ingatan saya selalu terseret kembali ke suasana pagi buta di Gunungkidul. Di tengah udara dingin yang menusuk tulang, Simbok sudah sibuk menghidupkan perapian. Bunyi gesekan korek api minyak tanah jadulβyang sumbunya kapuk randu (kapas pohon randu)βmenjadi musik pembuka hari. Bau minyak tanahnya yang khas adalah tanda bagi kami bahwa kehidupan telah dimulai.
Di atas tungku itu, Simbok ngliwet. Namun, πΊπππ π·ππππ kala itu adalah sebuah "kemewahan" yang Simbok simpan khusus untuk saya. Makanan pokok kami sebenarnya adalah Sego Thiwul. Kadang, Simbok membuatnya menjadi Sego Plethikβthiwul yang dicampur sedikit nasi putih agar ada bintik-bintik putihnya.
Sambil menunggu nasi matang, Simbok meracik πΊπππππ‘ πππ’πππ. Kelapa diparut manual, dicampur sambal bawang pedas, dibungkus daun pisang, lalu ditaruh di atas liwetan saat air mulai sat. Begitu matang, aroma πΊπππππ‘ πππ’πππ yang gurih menyatu dengan wangi πΊπππ π·ππππ dan asap kayu bakar yang mengepul tipis.
Ketika saya sudah bersekolah di STMN Wonosari pun ritual pagi simbok tetap sama. Sekolah itu dikenal dengan disiplinnya yang sangat ketat. Siswa yang terlambat sudah ditunggu satpam di depan gerbang untuk hukum push-up atau squat jump ditempat, yang kebetulan persis dipinggir jalan Wonosari - Yogya, jadi ya jadi tontonan para pengguna jalan yang melintas. Jika telat lebih dari lima menit, ada hukuman tambahan berupa kerja bakti membersihkan sekolah sepulang sekolah.
Simbok adalah seorang janda sejak saya masih kelas 1 SD. Saya hampir tidak pernah bercerita tentang kerasnya aturan sekolah ataupun masalah apapun. Saya sengaja menyembunyikan semua itu karena tidak ingin menambah beban pikirannya yang sudah berat. Maka, setiap kali kami sedikit kesiangan bangun, saya tetap berkeras untuk sarapan dulu sebelum berangkat. Meski dalam hati saya berdegup kencang membayangkan hukuman satpam, saya lebih memilih menjalani push-up di depan publik daripada harus melewatkan πΊπππππ‘ πππ’πππ buatan Simbok. Bagi saya, lebih baik menahan lelahnya hukuman daripada membiarkan Simbok sedih melihat anaknya berangkat dengan perut kosong.
Simbok sendiri jarang ikut sarapan nasi. Beliau lebih sering hanya minum teh panas tawar, ditemani singkong bakar, jagung goreng, Gathot, atau Manggleng. Di balik sepiring πΊπππ π·ππππ πΊπππππ‘ πππ’πππ saya, ada perut Simbok yang cukup diganjal dengan hasil kebun seadanya.
Kini Simbok sudah tiada. Secara teknis, saya mungkin tahu cara meracik πΊπππππ‘ πππ’πππ ituβbumbu dan langkah-langkahnya terekam jelas di kepala. Namun, meski seringkali ingin, saya tidak pernah benar-benar mencoba membuatnya sendiri. Saya yakin hasilnya tidak akan pernah sama. Tidak akan ada aroma asap kayu bakar yang meresap ke dalam parutan kelapanya, tidak ada bau minyak tanah dari korek jadul itu, dan yang paling utama: tidak ada lagi bumbu keikhlasan dari tangan Simbok yang selalu mendahulukan saya di tengah segala keterbatasan hidupnya.
Kredit Karya:
Cerita ini ditulis oleh Ahmad Sugito.
Selengkapnya dapat dibaca di: Facebook @Akuisme2024
Cerita ini ditulis oleh Ahmad Sugito.
Selengkapnya dapat dibaca di: Facebook @Akuisme2024
Karena Sambel Kambil simbok sudah lama tidak diproduksi lagi, bagi sedherek-sedherek yang penasaran rasanya silahkan mencoba membuatnya sendiri, kalau saya pribadi masih tetap belum ingin mencoba buat sendiri, saya hanya bisa merekomendasikan sambel lain yang mungkin juga punya cerita seru dibalik produksinya, monggo : https://s.shopee.co.id/2LUhyLh08N
Baca Juga
Artikel menarik lainnya untuk Anda


